Language :
Bahasa Indonesia
English
Home  »  Detail Photo News
Berita Foto
Friday, June 17, 2011 14:04

Buku oranye yang dicetak hitam putih dengan tema ekonomi hijau ini diharapkan memberikan warna yang lebih berarti bagi Dies FEM

Sekapur Sirih

Oleh : Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, M.Sc

            Pada musim gugur tahun 1934, seorang ekonom brillian yang kebetulan adalah imigran dari Rumania, tiba di Cambridge Massachusetts. Ia kemudian bergabung dengan kelompok “elit” ekonom Harvard ketika itu antara lain Joseph Schumpeter, Wassily Leontif, Oscar Lange, dan Nicholas Kaldor. Ia adalah Nicholas Georgescu-Rogen, yang oleh Nobel Laurette Paul Samuelson  disebut sebagai “an economist's economist” (ekonomnya ekonom). Selama hampir tiga puluh tahun di Harvard dan Vanderbilt, Georgescu-Rogen menghasilkan beberapa pemikiran ekonomi yang fundamental sekaligus radikal yang ketika itu dianggap menentang arus neo-klasik, sehingga ia kemudian dijuluki “rebellion economist”. Dengan latar belakang pendidikan matematika yang brillian, Georgescu-Rogen justru kemudian menawarkan konsep ekonomi yang “nyleneh” ketika itu yang bermuara pada maha karya (magnum opus) pada tahun 1971 yakni “The Entropy Law and the Economic Process”, sebuah karya yang memberikan pesan yang jelas kepada ekonom akan pentingnya dan perlunya mempertimbangkan alam dan lingkungan dalam pembangunan ekonomi, karena kegiatan ekonomi bagaimanapun juga tidak terlepas dari hukum entropy. Magnum opus yang melawan arus dan sempat diabaikan pada tahun 1970an tersebut kemudian kini menjadi “ruh” yang hidup kembali dalam konteks pembangunan berkelanjutan yang gencar dikampanyekan saat ini. Pesan yang diteruskan oleh murid Georgescu-Rogen yakni Herman Daly, serta ekonom terkemuka lainnya seperti Sir Partha Dasgupta, Jeffrey Sach dan lain-lain kini menjadi fokus dasar bagi paradigma pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dimana keserakahan dan tabiat merusak sudah seharusnya menjadi bagian masa lalu. Eric Beinhocker dalam bukunya “The Origin of Wealth” bahkan mengusulkan diperlukannya “radical remaking” dalam ekonomi dimana salah satunya adalah menerapkan kembali prinsip-prinsip yang telah dikembangkan oleh Georgescu-Rogen.

            Green economy adalah salah satu gerakan ke arah perubahan paradigma tersebut. Green economy mencoba mengubah mentalitas “growth first clean up later” menjadi, apa yang disebut oleh Gergescu-Rogen sebagai “ growth and clean up are viewed in an integrated fashion”.  Gerakan yang didasari pada semangat Georgescu-Rogen (atau dikenal dengan G-R rule)  kini telah menjadi gerakan yang sedang dijalankan secara masif di berbagai negara termasuk di Asia yang dipelopori oleh Korea dan China. Meski muncul dengan jargon yang bermacam-macam seperti green growth (OECD), green jobs (ILO), green industry (UNIDO), green business serta green economy (UNEP) sendiri, esensi dari semuanya yakni mengembalikan peran alam dan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keputusan ekonomi. Indonesia sendiri telah berkomitmen untuk mengembangkan green economy ini menjadi bagian dari pembangunan nasional. Komitmen yang dituangkan oleh pidato presiden di G-20 di Korea beberapa tahun lalau serta komitmen Indonesia untuk menekan emisi karbon sebesar 26 persen adalah beberapa contoh dari komitmen tersebut. Pemerintah sendiri telah mengubah pilar pembangunannya dari tiga pilar pro growth, pro poor, pro jobs, menjadi empat pilar yakni pro growth, pro poor, pro jobs dan pro environment. Selain itu Indonesia juga sudah, sedang dan akan mengembangkan berbagai inisiatif untuk mendukung green economy ini di semua sektor baik energy,pertanian, industri, transportasi, wisata dan sebagainya. Fauzi (2010) dalam laporannya kepada badan lingkungan PBB (UNEP)  berjudul Stocktaking Study on Greening Initiatives in Indonesia secara rinci menjelaskan beberapa program-program pembangunan di Indonesia yang mendukung pada paradigme green economy tersebut. Dengan kata lain green economy  kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan Indonesia. Demikian juga perkembangan global yang semakin intens akan pentingnya pembangunan yang berkualitas, memicu perlombaan inovasi dan kreatifitas serta pemikiran ke arah bisnis yang ramah lingkungan. Laporan  Price Water Cooper pada tahun 2008 berjudul “Going green: Sustainable Growth Strategies” menunjukkan tingginya permintaan pada pertumbuhan dan bisnis “hijau” di tahun-tahun mendatang. Permintaan tersebut berkisar antara 72% untuk konsumen, 75% untuk bisnis dan 76% untuk pemerintahan.

Sejalan dengan pemikiran gerakan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB sebagai salah satau institutsi pendidikan tinggi terkemuka merasa terpanggil untuk memberikan curah pikiran terkait pembangunan ekonomi di Indonesia secara umum maupun gerakan ke arah perubahan paradigma green economy tersebut. Sebagai suatu tradisi yang baik, Dies FEM selalu diisi dengan penerbitan tulisan yang dikenal dengan “Orange Book” (diberi nama orange book mengingat bendera FEM yang berwarna orange). Pada  Dies FEM ke-10 kali ini Green Economy diambil sebagai topik pilihan pada Orange Book kali ini. Buku ini berisi tulisan-tulisan pemikiran para staf pengajar dan juga mahasiswa FEM IPB dari 4 (empat) departemen yang ada di FEM IPB. Pemikiran mengenai green economy dalam buku ini disajikan secara beragam dari mulai tinjauan kritis tentang green economy itu sendiri, kajian-kajian  empiris dan  kaitannya dengan sektor pertanian, perikanan dan perkebunan serta peran manajemen dalam mengembangkan dan mendukung green economy. Sebagian tulisan berbicara langsung tentang green economy dengan berbagai aspeknya, sebagian berbicara secara tidak langsung melalui interaksi instrumen-instrumen lain seperti moneter, perubahan iklim, manajemen, agribisnis dan sebagainya. Terlepas dari keragaman tersebut, terbitnya buku ini perlu diapresiasi sebagai sumbangsih FEM IPB dalam usianya selama satu dekade berkiprah.

Saya yakin buku ini akan bermanfaat sebagai bahan acuan dan sumber pengetahuan yang bermanfaat bagi semua kalangan, baik mahasiswa, pengambil kebijakan, pelaku usaha  maupun masyarakat umum. Semoga buku oranye yang dicetak hitam putih dengan tema ekonomi hijau ini diharapkan memberikan warna yang lebih berarti bagi Dies FEM kali ini, IPB dan Indonesia pada umumnya.

Files:
Daftar_Isi_Orange_Book.doc41 K

Announcement

Ketentuan Umum Naskah yang dikirim belum pernah dipublikasikan di media lain. Naskah yang dikirim mempunyai relevansi dengan departemen dan ilmu ekonomi sumberdaya dan lingkungan. ...

Sekolah Pascasarjana IPB membuka Pendaftaran Mahasiswa Baru semester genap tahun akademik 2011.2012.  Masa pendaftaran dibuka mulai tanggal 7 Nopember 2011 sampai tanggal 31 Desember 2011. Cara...

Sehubungan dengan diselenggarakannya kegiatan Rabuan Bersama Dosen, Pegawai Kependidikan dan Perwakilan Mahasiswa FEM-IPB, bersama ini kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir pada : Hari/Tanggal:...