IPB : Indonesia Mampu Produksi Kurma Sendiri

Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian (Faperta) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan PT. Tropical Date Palm Indonesia, dan didukung oleh Direktorat Riset dan Inovasi IPB menyelenggarakan Simposium Kurma Tropika I (1st Symposium on Tropical Date Palm). Acara diselenggarakan di IPB International Convention Center (IICC) Bogor, Selasa (9/5).

Tujuan pelaksanaan Simposium Kurma Tropika I ini, antara lain adalah untuk membahas berbagai aspek budidaya kurma tropika yang meliputi pemuliaan kurma tropika, penyediaan bibit kurma tropika hasil kultur jaringan, regulasi importasi bibit kurma hasil kultur jaringan, kajian potensi hama dan strategi pengendaliannya, serta sharing pengalaman budidaya kurma tropika di Thailand.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama IPB, Prof. Dr. Anas Miftah Fauzi mengatakan simposium ini sangat penting untuk diadakan sebagai sebuah upaya menjawab tantangan bahwa kita bangsa Indonesia mampu dan bisa memproduksi sendiri kurma tropika, seperti halnya kelapa sawit yang tumbuh subur di Indonesia.  “Indonesia memiliki potensi pengembangan perkebunan kurma tropika. Kesuksesan Thailand dan Malaysia dalam mengembangkan kurma tropika yang memiliki kondisi iklim dan tanah yang sama, tentu menjadi pertimbangan. Di samping itu, kurma tropika juga memberikan manfaat dalam hal aspek sosial-ekonomi dan ekologi untuk Indonesia, sehingga budidaya kurma tropika sangat layak untuk dikembangkan,” paparnya.

Acara ini menghadirkan narasumber Direktur Perbenihan Hortikultura, Kementerian Pertanian RI, Ir. Sukarman. “Kurma tropis ini menjadi idola karena selama ini masyarakat Indonesia mengetahui bahwa kurma hanya tumbuh dan berbuah di daerah panas seperti daerah-daerah Timur Tengah, sehingga ketika mengetahui bahwa ternyata ada jenis pohon kurma yang mampu tumbuh dan berbuah dengan baik di negara kita, masyarakat berbondong-bondong untuk mengebunkan,” ujarnya.

Selain itu, tambahnya, kebutuhan kurma di negara kita cukup besar dan selama ini kurma yang dijual di pasaran Indonesia seluruhnya adalah Impor. “Impor bibit kurma tropis dari sistem kultur jaringan menjadi alternatif paling tepat bagi para pekebun di Indonesia. Namun bibit kurma tropis dari sistem kultur jaringan di Indonesia belum ada yang diproduksi secara lokal, semuanya diimpor dari beberapa negara, diantaranya Inggris dan Thailand,” katanya.

Narasumber lain, Dr. Alain Lemansyour, peneliti ahli tropical date palm United Arab Emirate (UAE) University menyampaikan bahasan “Pemuliaan dan Perbanyak Kurma Tropika”. Menurutnya, di Indonesia hampir kebanyakan pembibitan pohon kurma tropis dilakukan dengan cara generatif, yaitu dari biji. Selain lebih murah cara ini juga lebih mudah dibandingkan dengan cara kultur jaringan, karena tidak perlu keterampilan khusus maupun peralatan khusus. Namun bibit kurma tropis dari biji memiliki kelemahan, yaitu kemungkinan bibit jantan lebih besar dari betina. Dalam perbanyakan bibit pohon kurma, diantaranya dengan perbanyakan dari biji dan perbanyakan dari kultur jaringan,” terangnya.

Dalam kesempatan ini hadir pula sejumlah narasumber, yakni Prof. Dr. Sudarsono (Koordinator Plant Molecular Biology (PMB) Lab.IPB dan dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB); Prof. Dr. Meldy L. Hossang, peneliti dari BalitPalma; Ms. Prawput Puwkrasin, praktisi sukses kurma tropika dari Thailand; Abren Ginting, ST, MBA, komisaris PT. Tropika Date Palm Indonesia. Turut hadir Direktur Riset dan Inovasi IPB, Prof. Dr. Iskandar Z Siregar; Kasubdit Agenda Riset dan Publikasi Direktorat Riset dan Inovasi IPB, Dr. Nurul Khumaida.

Kegiatan Simposium Kurma Tropika I diakhiri dengan pembentukan Masyarakat Kurma Tropika Indonesia dan soft launching “Pusat Informasi Kurma Tropika (PI-KT). Acara ini dihadiri oleh sekira 150 orang peserta, dari peneliti, akademisi dan mahasiswa, serta instansi di tingkat pusat, tingkat provinsi, tingkat kabupaten/kota, kelompok tani, serta praktisi dari semua stakeholders yang telah bergerak atau tertarik untuk budidaya kurma tropika di Indonesia. (Awl)

Menu Mahasiswa

  • 1
  • 2